Mobil Listrik Tesla dan Masa Depan Mobil BBM

tesla

Mobil Listrik Tesla dan Masa Depan Mobil BBM – sumber : tesla.com

 

Akhir Juli 2017, Tesla meluncurkan model terbaru dari seri mobil listrinya, yakni Tesla Model 3. Model 3 ini adalah model yang lebih ekonomis ketimbang pendahulunya, yakni Model S dan Model X. Namun, meskipun demikian, Tesla Model 3 ini tetap tampil dengan performa keamanan yang tinggi, akselerasi supercepat, dan jarak tempuh baterai yang tahan jarak jauh.

Tesla sendiri adalah perusahaan yang didirikan salah satunya oleh Elon Musk yang juga pendiri dari SolarX yang memiliki visi dan misi dalam mengurangi pemanasan global melalui produksi energi yang berkelanjutan dan tekonologi yang ramah lingkungan.

Melalui Tesla Model 3 ini, Elon Musk dan para pendiri Tesla lainnya ingin membuktikan bahwa peradaban manusia di masa mendatang bisa lebih baik dari saat ini dan tidak perlu lagi tergantung dengan industri otomotif berbahan bakar fosil (BBM).

Mobil Listrik Tesla, Sebuah Revolusi

Impian awal Tesla dan realisasinya mendapat banyak cibiran di awal-awal tahun berdirinya. Banyak pihak pesimis bahwa impian Tesla ini bisa terealisasi dalam skala harga yang ekonomis dan terjangkau.

Cibiran ini tentu lebih banyak muncul dari kalangan industri yang terkait dengan otomotif berbahan bakar minyak dan industri produksi bahan bakar minyak itu sendiri. Banyak pihak yang sangsi bagaimana Tesla bisa mewujudkan mobil listrik dalam skala yang ekonomis.

Namun, di tengah banyak cibiran dan pesimisme banyak pihak, Tesla berhasil memproduksi mobil listrik, yang bukan saja murah, tapi juga super aman, super cepat, dan super nyaman. Bahkan, Tesla menerapkan fitur autopilot bagi mereka yang memang menghendaki penambahan fitur tersebut.

Pembuktian inilah yang semakin menguatkan kepercayaan pasar yang selama ini masih meragukan kehandalan mobil listrik produksi Tesla ini. Apalagi ditambah dengan Tesla yang sudah membangun ribuan titik pengisian ulang baterai mobilnya di berbagai lokasi di dunia.

Masa Depan Industri Otomotif

Dengan semakin meningkatnya kepercayaan pasar, Tesla berharap bahwa industri otomotif konvensional pun bisa mengikuti jejaknya dan mulai memikirkan agar mobil listrik ini mulai menggantikan keberadaan mobil-mobil berbahan bakar minyak di tahun-tahun mendatang di seluruh dunia.

Mengikuti tren keberhasilan Tesla dan bagaimana market meresponnya dengan positif, banyak negara kini mulai melirik kebijakan mobil listrik ini. Salah satunya adalah China.

China, sebagai negara dengan penduduk terbesar di dunia, dengan pertumbuhan ekonominya yang menakjubkan tentu membawa dampak besar pada kondisi alamnya. Tingkat polusi di China yang sudah parah, diperparah dengan laris manisnya mobil sebagai alat transportasi seiring dengan naiknya pendapatan per kapita negara ini.

Melihat kecenderungan ini, China mengambil langkah progresif dengan menganjurkan penggunaan mobil listrik bagi warganya. Tujuan jangka panjangnya adalah untuk mengurangi jumlah emisi karbon yang dihasilkan sehingga bisa mengurangi kadar polusi yang sudah parah di negara tersebut.

Selain China, negara-negara di Uni Eropa juga sudah bersepakat bahwa di akhir tahun 2040, sudah tidak lagi diperkenankan industri otomotif eropa untuk memproduks i mobil-mobil berbahan bakar minyak. Industri-industri otomotif ini sudah diharuskan untuk memproduksi mobil-mobil listrik yang ramah lingkungan. Menurut Bloomberg, negara yang sudah mendeklarasikan kesepakatan ini adalah Inggris dan Perancis.

Rekomendasi artikel :   Dompet Digital Dan Tren Transaksi Non Tunai di Masa Depan

Brand-brand besar dunia otomotif, seperti Daimler, Ford, General Motors, pun sudah mulai berlomba-lomba menghadirkan mobil listrik dengan harga ekonomis, karena mau tidak mau, kehadiran mobil listrik yang digagas Tesla ini, selain memikat perhatian banyak negara, juga menjanjikan masa depan dunia yang lebih ramah lingkungan.

Visi besar ini tentu harus didukung oleh infrastruktur pendukung seperti ketersediaan baterai yang tahan lama dan stasiun pengisian listrik di berbagai titik.

Itulah sebabnya Tesla membangun pabrik baterai mobil listrik terbesar di dunia di Nevada, Amerika Serikat pada bulan Juni 2014 bernama Tesla Gigafactory. Tesla juga menyediakan ribuan stasiun pengisian ulang listrik yang disebut Supercharger di seluruh dunia.

Bagaimana Dengan Indonesia?

Indonesia itu pasar yang sangat besar dan potensial bagi industri otomotif, khususnya mobil. Sampai saat ini, sementara negara-negara lain sudah mulai memikirkan masa depan yang harus ramah lingkungan terkait dengan industri otomotif, Indonesia belum terlihat tanda-tanda ini.

Tingkat polusi di kota-kota besar di Indonesia, terutama di pulau Jawa, sudah mulai mengkhawatirkan. Konsumsi BBM untuk digunakan pada kendaraan bermotor, terutama mobil pun terus bertambah. Sementara, kita semua tahu, sumber bahan bakar minyak ini adalah jenis sumber energi yang terbatas jumlahnya dan tidak terbarukan. Artinya suatu saat akan habis.

Sementara, Indonesia yang terletak di ekuator, memiliki keunggulan dalam memperoleh sinar matahari sepanjang tahun. Sumber energi dari matahari ini haruslah bisa dimanfaatkan sebagai sumber listrik melalui panel-panel surya.

Dengan segala kebutuhan dan keunggulan yang dimiliki negeri ini, mau tidak mau, negara Indonesia haruslah ikut serta dalam revolusi penyediaan mobil dan transportasi umum berbasis energi litrik.

Jika memang anak negeri belum bisa membuat mobil listrik sekelas Tesla, ada baiknya bekerja sama dengan vendor-vendor otomotif listrik semacam Tesla ini.

Pun, ada baiknya, jika vendor-vendor besar otomotif yang selama ini menjadikan Indonesia sebagai target pasarnya, seperti Toyota, Honda, Suzuki, Nissan, Mitshubishi, mulai memproduksi dan menyiapkan infrastruktur untuk keberadaan mobil listrik ini di Indonesia bekerja sama dengan pemerintah.

Kalau tidak mulai sejak sekarang, kapan Indonesia mau menjadi bagian dari solusi masa depan yang lebih baik?

download ebook videobook gratis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *