7 Tips Praktis Agar Bisnis Kecil UKM Bisa Memenangkan Persaingan Bisnis di Tengah Himpitan Brand-Brand Besar di Era Digital

memenangkan-persaingan-bisnis-melawan-brand-besar

7 Tips Praktis Agar Bisnis Kecil UKM Bisa Memenangkan Persaingan Bisnis di Tengah Himpitan Brand-Brand Besar di Era Digital

Salah satu keluhan yang sering dikeluhkan oleh para pelaku bisnis kecil skala UKM adalah bagaimana mereka merasa tidak bisa bertahan apalagi memenangkan persaingan bisnis dengan bisnis yang memiliki brand besar.

Para pelaku bisnis kecil ini merasa seolah ada tembok penghalang yang tinggi dan sulit ditembus ketika mereka mencoba melakukan penetrasi pasar yang juga serupa dengan target pasar brand-brand besar ini.

Jika Anda adalah pelaku bisnis kecil skala UKM pasti merasakan apa yang dirasakan kebanyakan para pelaku bisnis kecil lain, yakni dengan budget marketing yang pas-pasan, merasa sangat sulit untuk memenangkan persaingan bisnis dengan brand besar yang memiliki dana marketing yang sangat masif.

Brand-brand besar ini memiliki cakupan marketing skala nasional bahkan banyak yang multinasional. Nah, pertanyaannya, bagaimana brand bisnis kecil bisa menang dalam persaingan bisnis dan terus eksis di tengah himpitan brand-brand besar ini?

Continue reading

Bagaimana Menyikapi Karyawan Yang Berbalik Menjadi Kompetitor Bisnis Anda?

kompetitor bisnis

Bagaimana Menyikapi Karyawan Yang Berbalik Menjadi Kompetitor Bisnis Anda?

Menjalankan bisnis tidak selamanya mudah. Kompetitor akan senantiasa muncul setiap waktu selama bisnis Anda masih berjalan. Namun, apakah Anda siap mendapati karyawan yang berbalik menjadi kompetitor bisnis Anda?

Apakah Anda siap, mendapati karyawan yang selama ini Anda ajari dan beri kepercayaan sepenuhnya, kemudian keluar dari bisnis Anda dan menjalankan bisnis yang serupa dengan yang Anda jalankan?

Bagaimana Anda harus bersikap?

Sebelum menjawab pertanyaan ini, ada baiknya mendengarkan cerita yang pernah diceritakan oleh salah satu guru bisnis saya.

Begini kisahnya :

“Suatu waktu, guru saya ini didatangi seorang ibu pengusaha katering. Ibu ini rupanya kesal dan bercerita sambil marah-marah perihal perilaku kedua kokinya yang memutuskan berhenti bekerja dan membuka bisnis serupa sambil mengajak 3 orang lain karyawan si Ibu sebagai tukang masaknya.

Semula, Ibu ini mendatangi tempat si kedua kokinya ini dan meluapkan amarahnya kepada mereka. Inti kemarahan si Ibu adalah betapa kedua orang ini tidak tahu terima kasih sudah bertahun-tahun dididik kok malah berkhianat.

Mendengar cerita si Ibu, guru saya ini lalu memberi nasihat agar si Ibu datang kembali menemui kedua mantan kokinya tadi untuk berbaikan sekaligus menanyakan, “Apa lagi yang kurang? Nanti saya bantu!”

Si Ibu kaget mendengar saran guru saya tersebut, “Lho, kok saya malah disuruh bantu mereka, Pak?”

Guru saya menjawab, “Sekarang, kemampuan produksi Ibu berapa banyak?”. Si Ibu menjawab, “200 porsi sehari, Pak.”

“Lalu, kalau Ibu dapat orderan 500 porsi, apakah Ibu akan menolak order tadi?”, lanjut guru saya bertanya.

Si Ibu terdiam.

Guru saya melanjutkan, “Jika Ibu tidak mau menolak orderan tadi, tapi Ibu hanya sanggup melayani 200 porsi, sisa 300 porsi kira-kira siapa yang bisa bantu Ibu untuk menyelesaikannya?”

Si Ibu menjawab, “Saat ini ya hanya dua mantan koki saya itu yang bisa bantu saya, Pak!”

“Nah, daripada Ibu malah tidak mendapat orderan, akan lebih baik kalau Ibu berbagi orderan dengan mereka, dan Ibu bisa mengambil untung dari situ.”, demikian guru saya menjelaskan.

“Saya yakin, kedua mantan koki Ibu itu juga akan melakukan hal yang sama kepada Ibu jika mereka mendapat kelebihan orderan nantinya.”, ucap guru saya melanjutkan.

Singkat cerita, ternyata si Ibu menuruti perkataan guru saya tadi dan akhirnya menjalin kerjasama dengan kedua mantan kokinya tadi.

Dan, saat ini, si Ibu bukan lagi melayani order 500 porsi per hari saja, tapi sudah meningkat menjadi 2000 porsi per hari.”

Continue reading

6 Tingkatan Transformasi Digital dan Penerapannya Dalam Bisnis

transformasi digital

6 Tingkat Transformasi Digital dan Penerapannya Dalam Bisnis

Transformasi digital didefinisikan sebagai penyesuaian ataupun bentuk investasi baru dalam hal teknologi, model bisnis, dan proses bisnis yang mendorong terciptanya nilai baru bagi konsumen dan karyawan agar semakin efektif dalam bersaing di era perubahan ekonomi digital yang serba cepat – Brian Solis, Altimeter Group.

Transformasi digital telah menjadi salah satu topik tren penting dalam dunia bisnis, yang menentukan bagaimana perusahaan-perusahaan beraktivitas, membentuk pasar, serta memicu perkembangan inovasi yang terus-menerus.

Terkait hal ini, Solis berpendapat bahwa ada 6 tingkatan transformasi digital dan model tingkat kematangan model bisnis yang ia kembangkan.

Apa saja 6 tingkatan transformasi digital ini?

Continue reading