Who Moved My Cheese?

rats-and-cheeseWho Moved My Cheese? adalah sebuah judul salah satu buku motivasi terbaik yang pernah saya baca bertahun-tahun lalu. Buku karangan Spencer Johnson, M.D. ini, mengisahkan tentang dua ekor tikus dan dua kurcaci yang mencari-cari keju yang biasa mereka peroleh dengan mudah, akan tetapi kini harus mereka cari dengan susah payah.

Lalu, mengapa buku ini menarik untuk saya ceritakan kembali? Well, begini, beberapa waktu lalu, saya mengalami hal yang kurang mengenakkan menimpa diri saya terkait dengan bisnis kuliner yang saya jalani.

Saya memiliki sebuah bisnis kuliner yang saya jalankan bersama rekan saya sejak tahun 2009 di sebuah lokasi yang cukup strategis. Sejak pertama kami merintis bisnis ini, konsep awalnya memanglah sebuah warung tenda yang nyaman dan mulai buka sore hari hingga tengah malam.

Lokasi warung tenda kami berada di pelataran parkir sebuah kantor yang sejak awal memang kami sewa untuk aktivitas jualan. Tahun demi tahun berjalan, bisnis kuliner ini telah memiliki omset penjualan yang lumayan serta pelanggan setia yang lumayan banyak.

Namun, seperti kata petuah bijak “Tak ada yang abadi”, ya, beberapa bulan lalu, saya “diusir” dari lokasi tersebut karena selain memang masa sewa tahunan kami di situ sudah habis, pemilik gedung perkantoran tersebut juga tidak lagi mengijinkan kami memperpanjang sewa tahunan kami di situ. Alasan dari si empunya bangunan adalah bahwa gedung tersebut hendak diperuntukan untuk keperluan lain yang nantinya tidak memungkinkan jika warung tenda kami masih beroperasi setiap sore hari hingga malam.

Sebagai seorang manusia biasa, saya shock mengetahui hal itu. Segala upaya untuk mempertahankan agar sewa lahan masih diperbolehkan, menemui jalan buntu. Terbayang betapa ruwet urusan mencari lokasi baru yang sama strategisnya dan memberi tahu pelanggan-pelanggan kami soal lokasi baru tersebut. Belum lagi soal proses pemindahan barang-barang yang pastinya akan menyita waktu dan biaya.

Saya sempat agak terbawa emosi ketika pemilik gedung memberi tahu soal ini, apalagi ketika mengetahui bahwa jangka waktu yang diberikan untuk kami pindah sangat singkat. Bahkan sempat saya mengatakan bahwa si pemilik gedung tersebut tidak manusiawi karena hanya memberikan tempo waktu yang singkat menurut penilaian saya.

Singkat cerita, mau tidak mau, akhirnya saya berkeliling mencari lokasi baru di dekat lokasi lama. Dan, puji Tuhan, saya mendapatkan lokasi baru dengan segala kekurangan dan kelebihannya untuk kembali berjualan. Setelah proses pemindahan, penyesuaian layout warung, dan segala tetek bengek proses peralihan dari tempat lama ke tempat baru, akhirnya warung tenda kami pun kembali beroperasi.

Rekomendasi artikel :   Awas Jebakan Medioker!

Namun, singkatnya waktu membuat kami belum sempat menjangkau sebagian besar pelanggan-pelanggan loyal kami dan memberi tahu soal kepindahan kami di tempat baru. Alhasil, penjualan harian kami jauh dari harapan dibandingkan dengan penjualan harian di lokasi lama.

Akan tetapi, sisi positifnya, di lokasi yang baru ini, kami banyak mendapatkan pembeli-pembeli baru, yang kami harapkan nantinya akan menjadi pelanggan setia warung tenda kami tersebut. Dan seiring waktu berjalan, omset penjualan harian kami sedikit demi sedikit mulai naik meskipun saat artikel ini saya tulis masih berada di bawah omset rata-rata di lokasi lama.

who-moved-my-cheese

Nah, di titik inilah saya tiba-tiba teringat dengan buku “Who Moved My Cheese?” tadi. Saya seolah-olah menjadi tikus atau kurcaci di buku tersebut, yang oleh sebuah kekuatan tak kelihatan tiba-tiba kehilangan keju yang biasa saya nikmati dengan mudah setiap hari. Saya disadarkan, apakah di waktu-waktu mendatang, saya akan memilih bertindak sebagai si tikus atau si kurcaci?

Jika saya menjadi si tikus, tentu saya harus mau rela dan gigih menelusuri setiap lorong kemungkinan demi mendapatkan keju saya kembali. Atau, apakah saya akan terus menjadi si kurcaci yang hanya melulu menyalahkan keadaan yang mendadak menghilangkan keju nikmat itu, tanpa mau kembali menapaki setiap kesempatan untuk mendapatkan keju-keju lain yang lebih nikmat?

Lalu, bagaimana dengan Anda? Siapkah jika keju yang biasa Anda nikmati dengan mudah setiap hari tiba-tiba menghilang?

download ebook videobook gratis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *