3 Hal Yang Bisa Membunuh Bisnis Start-Up Yang Anda Rintis

bisnis start-up

3 Hal Yang Bisa Membunuh Bisnis Start-Up Yang Anda Rintis

Beberapa tahun belakangan, telinga kita akrab dengan kemunculan berbagai bisnis start-up yang cukup memberi warna dalam dunia perekonomian dunia maupun tanah air.

Nah, jika Anda adalah salah satu yang sedang merintis bisnis start-up atau memiliki impian memulai bisnis start-up, artikel kali ini akan membahas 3 hal yang bisa membunuh bisnis start-up yang Anda rintis tadi.

Mari kita simak dengan seksama.

Bisnis start-up pada dasarnya adalah bisnis rintisan seperti kebanyakan bisnis lain. Hanya saja, bisnis start-up identik dengan bisnis berbasis teknologi informasi.

Bisnis start-up adalah bisnis yang dimulai dengan mengandalkan teknologi informasi dalam proses bisnisnya. Secara sederhana, start-up berarti rintisan. Akan tetapi, secara umum, bisnis start-up dikenal identik dengan pemanfaatan teknologi informasi yang memudahkan konsumen dalam menikmati produk atau jasa yang ditawarkan.

Ciri yang paling mudah dilihat dalam sebuah bisnis start-up adalah exponential growth atau pertumbuhan yang sangat cepat ketimbang bisnis konvensional. Hal ini pula yang menjadikan banyak kaum muda saat ini tergiur untuk memulai bisnis start-up mereka sendiri.

download-database-supplier-di-sini

Akan tetapi, banyak anak muda yang lupa bahwa faktor kegagalan dalam memulai bisnis (konvensional maupun start-up) sangatlah besar. Survey dari Forbes menyebutkan bahwa 9 dari 10 perusahaan start-up menghilang dalam 2 tahun saja.

Anak-anak muda ini seringkali terperangkap dalam mitos bahwa “speed to market is everything” atau kecepatan meluncurkan produk ke pasar adalah hal paling penting. Mereka berlomba-lomba meluncurkan produk karena takut didahului oleh kompetitor, tanpa mengindahkan faktor-faktor pendukung bisnis secara matang. Ironis.

Hasilnya? Akhirnya mereka akan terjebak sendiri dalam perusahaan start-up yang mereka buat.

Nah, bagaimana dengan Anda? Apakah Anda termasuk dalam kategori yang menganggap bahwa kecepatan adalah segalanya?

Apapun kondisi Anda saat ini, setidaknya ada 3 hal yang harus Anda ketahui yang selama ini bisa menjadi jebakan dan menyebabkan bisnis start-up yang Anda rintis mati perlahan.

Apa saja ketiga hal itu?

Pertama : Produk Yang Ditawarkan Tidak Diterima Pasar

Anda dan kebanyakan anak muda yang merintis bisnis start-up biasanya memulai dengan ide-ide yang luar biasa hebat yang menurut Anda akan diterima oleh pasar.

Namun, kenyataan berkata lain. Pasar tidak begitu membutuhkan atau suka dengan produk yang Anda tawarkan. Dan, akhirnya bisnis Anda pun terpaksa harus tutup atau berganti haluan.

Nah, ada beberapa hal yang bisa membuat produk yang Anda tawarkan tidak diterima dengan baik oleh pasar, diantaranya adalah :

  1. Saatnya belum tepat. Masyarakat belum membutuhkan atau menyadari nilai dari produk yang ditawarkan.
  2. Produk yang Anda tawarkan tidak sesuai dengan janji yang Anda berikan di awal. Produk yang tidak sempurna dan tidak sesuai janji ini membuat beberapa konsumen kecewa. Kekecewaan ini ternyata menyebar begitu cepat hingga sulit Anda atasi. Akhirnya bisnis Anda sudah dicap buruk sejak awal.
  3. Harga yang ditawarkan terlalu tinggi. Di era serba cepat ini, konsumen seringkali dibombardir dengan tawaran-tawaran produk dengan rentang harga yang paling murah sampai paling mahal. Namun, ketidakmampuan menempatkan posisi produk dalam area kemampuan membeli target pasar yang dituju akan sangat fatal karena produk Anda akan dianggap terlalu mahal oleh calon konsumen Anda. Kemampuan memberi harga sesuai dengan kemampuan berbelanja calon konsumen adalah hal yang penting untuk Anda miliki.

Kedua : Mengabaikan Proses Bisnis

Sebagian kaum muda, mungkin termasuk Anda, berfokus membangun produk yang menitikberatkan pada kriteria “seksi” atau “unggulan”. Kriteria produk unggulan ini antara lain :

  1. Dibutuhkan masyarat kebanyakan. Produk yang diciptakan mampu memudahkan kehidupan masyarakat.
  2. Menyentuh dari sisi emosional. Produk yang diciptakan harus mampu membawa pembelinya merasa “hebat”, “beruntung”, “nge-tren”, “kekinian”, dan segala rasa emosi lain yang memang menjadi nilai jual produk tersebut.
  3. Mudah diakses atau dibeli. Kemudahan pembelian ini didukung dengan jalur distribusi secara online, melalui aplikasi digital, lewat toko online, marketplace, dan lain sebagainya. Biasanya, produk start-up ini menghindari jalur distribusi tradisional.
Rekomendasi artikel :   Metode Praktis Untuk Mengukur Dampak Pelatihan Karyawan Terhadap Perkembangan Bisnis

Nah, saking fokusnya, para pendiri start-up biasanya hanya berkutat dalam hal penciptaan produk semata, tanpa mengindahkan berbagai proses bisnis lain.

Sebagai informasi, proses bisnis secara umum melingkupi, produksi, keuangan, operasional, dan marketing. Setiap proses bisnis ini ibarat tiang-tiang yang menyangga bisnis Anda.

Nah, jika pendiri hanya berfokus pada produksi saja, maka bisa dikatakan ketiga tiang lainnya rapuh sehingga tidak mampu menopang bisnis dengan baik. Akibatnya apa? Bisnis start-up yang dijalankan akan timpang dan cenderung berantakan.

Jika hal ini tidak segera dibereskan, bisnis akan hancur perlahan-lahan dari dalam.

Ketiga : Bisnis Berkembang Terlalu Cepat atau Terlalu Lambat

Bisnis start-up memang memiliki kecenderungan perkembangan yang cukup cepat dibandingkan dengan bisnis konvensional. Namun, perkembangan yang cukup cepat ini bisa saja berubah menjadi sangat cepat dan terlalu cepat sehingga muncul berbagai masalah karena faktor ketidaksiapan.

Ketidaksiapan ini seringkali muncul dari sisi operasional yang berantakan karena ketidakmampuan mengikuti ritme perkembangan bisnis.

Hal lain yang membuat bisnis start-up yang terlalu cepat berkembang menjadi gagal adalah dari sisi pendanaan. Acapkali pendanaan yang cukup besar diperlukan untuk membuat bisnis berkembang dengan baik. Akan tetapi, sampai di fase tertentu ketika bisnis mulai memasuki exponential growth (pertumbuhan yang eksponensial), diperlukan pendanaan yang lebih besar lagi.

Ketidakmampuan pendiri bisnis start-up dalam menggaet investor untuk memberi pendanaan yang lebih besar lagi akan menyebabkan bisnis gagal melejit, menjadi stagnan, dan disusul oleh kompetitor.

Di sisi lain, ada juga bisnis start-up yang memerlukan waktu yang lama untuk berkembang. Hal ini buruk dari sisi investasi. Investor tentu berharap agar uang yang diinvestasikan segera membuahkan hasil. Namun, jika sebuah bisnis lambat berkembang, tentu bisnis ini tidak akan menarik di mata investor. Ujung-ujungnya, bisnis akan kehabisan dana operasional.

Dalam kedua kasus, yakni bisnis yang terlalu cepat dan terlalu lambat berkembang, keduanya tidak baik dan bisa berujung “kematian” bisnis start-up.

Anda, sebagai pendiri, haruslah mampu menyeimbangkan kecepatan perkembangan bisnis Anda dengan sisi internal operasional bisnis dan sisi pendanaan. Imbangi sisi operasional dengan SDM-SDM yang berkualitas dalam mengelola keuangan, manajerial, produksi, dan pemasaran. Cari investor-investor yang mampu memahami dan siap mendanai setiap fase perkembangan bisnis Anda sampai nanti bisnis start-up Anda go-public.

DEMIKIAN, 3 hal yang bisa membuat bisnis start-up yang Anda rintis menjadi mati. Hindari ke-3 hal ini dan perbaiki jika bisnis yang sedang Anda rintis ada di dalam kondisi-kondisi buruk ini. Terapkan strategi bisnis yang tepat agar bisnis start-up Anda mampu berkembang dan bertahan di tengah kompetisi bisnis yang serba cepat dan ketat.

Selamat berbisnis!

download ebook videobook gratis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *